Siluet kolektif dengan latar skyline Jakarta keemasan

Lintas Generasi Menyalakan Satu Sumpah Persatuan

Menelusuri jejak para tokoh lintas generasi dan beragam latar belakang dalam menyalakan semangat Sumpah Pemuda untuk persatuan dan kemajuan Indonesia hari ini dan masa depan.

Memaknai Sumpah Pemuda

Satu ikrar, persatuan lintas generasi

Sumpah Pemuda menjadi pengingat akan keberanian sebuah generasi dalam menempatkan cita-cita kebangsaan di atas perbedaan asal-usul. Semangat persatuan tersebut terus dilanjutkan oleh generasi penerus melalui karya, inovasi, serta pengabdian. Sebagai bangsa besar dengan ratusan juta penduduk yang beragam, Indonesia membutuhkan fondasi yang kokoh agar tetap berdiri tegak dan tidak mudah goyah.

Fondasi kokoh tersebut dibangun oleh para tokoh pendahulu melalui beragam jalan pengabdian. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), B.J. Habibie, dan William Soeryadjaya, merupakan tiga tokoh yang menempuh jalan berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: keberanian membangun kapasitas Indonesia.

Keberagaman peran ini selaras dengan pandangan cendekiawan Sukidi yang menekankan bahwa kemajuan bangsa bertumpu pada pembangunan manusia (human capital) dan jiwa bangsa. Tolok ukur Indonesia maju tidak sekadar diukur dari fisik semata, tetapi dari hadirnya men of character yang memimpin dengan habit of mind dan habit of the heart.

Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid hadir sebagai simbol penjaga kebhinekaan dan pembela kelompok terpinggirkan. Gus Dur menempatkan kemanusiaan sebagai fondasi paling esensial dalam berbangsa, memastikan setiap warga negara mendapatkan hak dan kesetaraan yang adil tanpa memandang latar belakang identitas. Semangat ini sejalan dengan jiwa Sumpah Pemuda yang menyatukan berbagai elemen bangsa dalam satu ikatan persatuan Indonesia.

Ia mendorong pengakuan terhadap masyarakat Tionghoa dan membuka ruang yang lebih luas bagi ekspresi budaya mereka, termasuk perayaan Imlek. Satu pesan Gus Dur, “Perbedaan itu adalah rahmat. Namun persatuan lebih mulia.” Pesan ini sejalan dengan pandangannya bahwa perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh.

B.J.Habibie akan selalu dikenang sebagai ‘Bapak Teknologi Indonesia”. Indonesia bukan negara kaya, namun Indonesia tak perlu minder dan harus berdiri tegak sejajar dengan bangsa manapun di dunia. Indonesia berhak bermimpi setinggi langit—dan memiliki kemampuan untuk mewujudkannya. “Kalau bukan anak bangsa ini yang membangun bangsanya, siapa lagi?” kata Habibie.

Sementara itu, pendiri Grup Astra, William Soeryadjaya (Om William), menunjukkan bentuk nasionalisme melalui penguatan industri nasional. Bagi William, yang akrab disapa Om William, memahami bahwa membangun industri otomotif bukan sekadar menjual kendaraan. Di balik setiap mobil ada rantai panjang: tenaga kerja, pemasok komponen, keterampilan teknis, jaringan distribusi, dan kesempatan bagi usaha lokal untuk tumbuh. Industri yang sehat dapat menjadi sekolah besar bagi sebuah bangsa—tempat orang belajar, bekerja, berinovasi, meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan.

Kisah ketiga tokoh ini menginspirasi kita bahwa ada banyak jalan untuk mencintai Indonesia. Dalam momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober tahun ini, Katadata memberikan Lifetime Achievement Award kepada William Soeryadjaya, Abdurrahman Wahid, dan B.J. Habibie. Simak rekam jejak ketiga tokoh ini beserta karya-karyanya, dan pandangan dari anak-anak mereka: Edwin Soeryadjaya, Yenny Wahid, dan Ilham Habibie, dalam Liputan Khusus Katadata, Oktober 2026.